Bukan Sekadar Ketupat: Makna Tersembunyi di Balik Tradisi Qunutan Malam ke-15 Ramadan yang Jarang Diketahui
--Ilustrasi gambar
KALSEL.DISWAY.ID - Memasuki hari ke-15 bulan suci Ramadan, denyut spiritual umat Islam di Indonesia tak hanya diisi dengan ibadah, tetapi juga pelestarian tradisi turun-temurun. Di sejumlah daerah, masyarakat merayakan malam pertengahan puasa ini dengan tradisi unik yang dikenal sebagai Qunutan atau Ngupat .
Jika biasanya kita mengenal ketupat sebagai hidangan khas Idul Fitri, di beberapa wilayah seperti Banten, Tangerang, hingga Jawa Tengah, ketupat justru sudah hadir di pertengahan Ramadan. Lantas, apa makna di balik tradisi yang telah mengakar ini?
Bukan Sekadar Makanan, Tanda Setengah Perjalanan Ibadah
Tradisi Qunutan biasanya dilaksanakan pada malam ke-15 Ramadan, menandai bahwa umat Islam telah melewati separuh pertama bulan penuh berkah dan memasuki separuh kedua yang tak kalah istimewanya . Warga akan mulai sibuk meracik ketupat dan lepet dari daun kelapa muda yang diisi beras, lalu direbus selama berjam-jam hingga matang .
Salah seorang warga di Desa Mogana, Pandeglang, Iip Supriati, mengungkapkan bahwa proses pembuatan kuliner ini terbilang memakan waktu. "Direbus di atas tungku api yang besar selama 3-4 jam," ujarnya kepada MetroTVNews.com . Aroma khas dari rebusan ketupat di atas tungku inilah yang menjadi penanda bahwa tradisi tahunan ini kembali hadir.
Doa Qunut dan Peralihan Surah
Secara etimologis, istilah Qunutan sendiri erat kaitannya dengan amalan Doa Qunut yang dibaca dalam salat. Dalam tradisi ini, umat Islam dianjurkan membaca Doa Qunut saat salat Tarawih, yang diyakini sebagai doa penolak bala .
Keyakinan ini didasari pemahaman bahwa 15 hari terakhir Ramadan penuh dengan ujian dan godaan yang dapat mengganggu kekhusyukan. Oleh karena itu, Doa Qunut diharapkan bisa memberi keteguhan hati .
Selain itu, malam ke-15 juga menandai dimulainya bacaan surah baru dalam salat Tarawih, yakni peralihan dari Surah At-Takasur menuju Surah Al-Qadr. Surah Al-Qadr dipilih karena malam-malam berikutnya diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan .
Jejak Sejarah dari Masa Wali Songo
Tradisi Qunutan atau Kupatan bukanlah seremonial tanpa dasar. Sejarah mencatat, tradisi ini telah ada sejak zaman Kesultanan Demak pada tahun 1524, ketika pengaruh Islam mulai menyebar ke wilayah barat Nusantara, termasuk Cirebon dan Banten .
Dikisahkan, Sunan Gunung Jati dengan dukungan pasukan Demak berhasil menguasai pelabuhan Banten. Sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan berkah di bulan suci, ketupat kemudian dibagikan kepada masyarakat . Filosofi ini terus diwariskan dan berkembang di berbagai daerah dengan corak yang khas.
Di Tangerang misalnya, Tradisi Qunutan diisi dengan berkumpul di masjid untuk salat Tarawih berjamaah dan membaca Doa Qunut. Setelah itu, warga membawa ketupat dari rumah untuk disantap bersama .
Pewawancara dari TangerangDaily mencatat bahwa ketupat di sini bukan hanya makanan, melainkan simbol rasa syukur atas nikmat yang diberikan selama bulan suci. "Masyarakat saling berbagi ketupat dan hidangan lainnya, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat," tulis media tersebut dalam laporannya .
ketupat: Simbol Pengakuan Salah dan Keragaman
Jika ditelisik lebih dalam, ketupat memiliki filosofi luhur yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Janur atau daun kelapa muda yang membungkus ketupat melambangkan hati nurani manusia. Sementara bentuk anyaman yang rumit mencerminkan keragaman masyarakat yang harus dijaga melalui tali silaturahmi .
Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai simbol pengakuan kesalahan. Semakin rumit anyamannya, semakin kompleks pula kesalahan yang mungkin diperbuat, sehingga menjadi pengingat untuk saling memaafkan .
Di berbagai daerah, tradisi ini memiliki nama yang berbeda. Di Wonogiri, Jawa Tengah, masyarakat mengenalnya dengan tradisi Kupatan yang diisi dengan doa bersama dan memukul bedug . Sementara di Desa Mogana, setelah matang, ketupat dan lepet akan dibawa ke masjid untuk doa bersama usai salat Tarawih, sebagai harapan mendapat keberkahan .
Lebih dari sekadar ritual, Qunutan adalah bukti bahwa budaya dan spiritualitas dapat berjalan beriringan, menguatkan rasa syukur dan solidaritas sosial di tengah masyarakat
Sumber: