"Sunyi Saat Curhat, Ramai Saat Pamer" — Ketika Media Sosial Tak Lagi Ramah untuk Mencari Teman
--Ilustrasi gambar
KALSEL.DISWAY.ID - Dulu, media sosial menjadi ruang paling nyaman untuk menyambung tali silaturahmi, menemukan teman lama, atau sekadar mencari komunitas dengan hobi yang sama. Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut seakan bergeser. Kini, linimasa lebih sering dipenuhi unggahan tentang pencapaian, gaya hidup mewah, hingga "pamer" kesuksesan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Apakah media sosial masih menjadi tempat mencari teman, atau justru telah berubah menjadi etalase pencapaian semata?
Dari “Bercerita” Menjadi “Berlomba”
Pengamat media sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Damayanti, menilai bahwa pergeseran ini tidak terjadi secara instan. Menurutnya, perubahan algoritma dan budaya digital telah mengubah cara pengguna berinteraksi.
"Media sosial awalnya dibangun untuk koneksi. Tapi sekarang, ada tekanan sosial tidak tertulis untuk selalu tampil sempurna. Orang tidak lagi bertanya 'apa kabar', tapi lebih sering menilai berdasarkan seberapa banyak like atau seberapa mentereng konten yang diunggah," ujar Rina kepada wartawan, Jumat (27/3/2026).
Ia menambahkan bahwa saat ini media sosial kerap berfungsi sebagai personal branding yang eksklusif. Alih-alih membangun relasi yang setara, pengguna cenderung "menjual" citra diri.
Pengakuan Pengguna: Antara Sunyi dan Pencarian Validasi
Sejumlah pengakuannya juga datang dari para pengguna aktif. Bagi sebagian generasi milenial dan Gen Z, media sosial seperti Instagram dan TikTok memang masih menjadi alat untuk menemukan teman baru, namun dengan hambatan yang berbeda.
"Kalau dulu saya pakai Path atau Twitter awal-awal, rasanya hangat. Kita bisa curhat dan dapat respons nyata. Sekarang, kalau saya unggah pencapaian, ramai. Tapi kalau unggah yang biasa saja atau lagi galau, rasanya sepi. Akhirnya saya jadi ikut-ikutan pamer juga biar dilihat," keluh Sari (27), seorang kreator konten asal Bandung.
Hal senada disampaikan oleh Andi (30), pengguna LinkedIn dan Instagram aktif. Baginya, mencari teman di media sosial saat ini harus lebih selektif.
"Sekarang kalau cari teman di sosmed, seringkali yang dilihat dulu bukan karakternya, tapi highlight reels-nya. Apakah dia keren? Apakah dia sukses? Ini jadi semacam etalase. Kalau tidak ada 'prestasi' yang dipajang, kadang susah juga untuk memulai percakapan," tuturnya.
Dilema Etalase Digital
Psikolog klinis, Laura Andini, M.Psi., menjelaskan bahwa perubahan fungsi media sosial menjadi etalase pencapaian ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, hal ini memotivasi sebagian orang untuk berkembang. Namun di sisi lain, fenomena ini memicu kecemasan berlebih atau FOMO (Fear of Missing Out).
"Ketika media sosial menjadi etalase, pengguna cenderung menampilkan versi terbaik dirinya. Yang bermasalah adalah ketika penonton atau pengguna lain membandingkan 'lembaran belakang' hidup mereka dengan 'etalase' orang lain. Padahal, esensi mencari teman itu adalah menerima keutuhan seseorang, bukan hanya pencapaiannya," jelas Laura.
Menurut Laura, untuk mengembalikan fungsi media sosial sebagai ruang berteman, pengguna perlu mulai selektif dalam mengonsumsi konten dan tidak takut untuk menjadi 'otentik'.
"Saat ini, justru komunitas-komunitas kecil yang mengedepankan kerentanan (vulnerability) mulai bermunculan. Itu pertanda bahwa orang mulai lelah dengan etalase dan mulai merindukan koneksi yang tulus," pungkasnya.
BACA JUGA:FOMO Diam-Diam Merusak Mental? Ini Dampak yang Sering Tidak Disadari
Media sosial saat ini berada di persimpangan. Algoritma yang mendorong popularitas dan budaya pamer pencapaian memang membuat fungsi "mencari teman" menjadi semakin kabur. Meski masih memungkinkan untuk bersilaturahmi, pengguna kini harus lebih jeli menyeimbangkan antara menjadi diri sendiri dan sekadar menjadi pajangan di etalase digital.
Bagi Anda, media sosial masih menjadi tempat untuk berteman, atau justru sudah berubah menjadi panggung pamer pencapaian?
Sumber: