KALSEL.DISWAY.ID - Gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 menjadi salah satu fenomena astronomi yang paling dinanti tahun ini. Peristiwa langit tersebut terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi, namun ukurannya tampak lebih kecil sehingga tidak menutupi Matahari sepenuhnya. Akibatnya, cahaya Matahari masih terlihat membentuk lingkaran terang menyerupai “cincin api”.
Fenomena ini selalu menarik perhatian masyarakat, baik pengamat astronomi maupun warga umum, karena keindahan visualnya yang jarang terjadi. Selain menjadi momen edukasi sains, gerhana matahari cincin juga mendorong meningkatnya minat publik terhadap astronomi. Bagaimana Gerhana Matahari Cincin Terjadi? Gerhana matahari cincin terjadi karena orbit Bulan berbentuk elips. Pada saat tertentu, jarak Bulan dari Bumi lebih jauh dari biasanya. Kondisi ini membuat ukuran tampak Bulan lebih kecil dibanding Matahari. Ketika ketiganya sejajar, Bulan tidak mampu menutupi seluruh piringan Matahari. Hasilnya adalah lingkaran cahaya terang yang khas — fenomena yang sering disebut sebagai ring of fire. Secara ilmiah, peristiwa ini menjadi kesempatan penting untuk mengamati dinamika orbit benda langit sekaligus memperkaya literasi astronomi masyarakat. Momen Edukasi dan Wisata Astronomi Gerhana matahari cincin bukan sekadar tontonan visual. Banyak komunitas astronomi memanfaatkan momen ini untuk kegiatan edukasi, observasi bersama, hingga diskusi ilmiah. Sekolah dan lembaga pendidikan biasanya turut mengangkat tema gerhana sebagai sarana belajar langsung mengenai tata surya. Fenomena langit seperti ini juga berpotensi mendorong wisata astronomi, terutama di wilayah yang memiliki kondisi pengamatan lebih optimal. Imbauan Keselamatan Saat Mengamati Gerhana Mengamati gerhana matahari tidak boleh dilakukan sembarangan. Melihat Matahari secara langsung tanpa perlindungan dapat merusak mata secara permanen. Pengamat disarankan menggunakan:-
Kacamata khusus gerhana bersertifikasi
Filter teleskop standar astronomi
Metode proyeksi tidak langsung