KALSEL.DISWAY.ID - Setiap awal April, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia melaksanakan tradisi Ceng Beng. Ini adalah momen penghormatan kepada leluhur sekaligus ajang reuni keluarga yang telah berlangsung ribuan tahun.
Apa Itu Ceng Beng? Ceng Beng berasal dari bahasa Mandarin Qing Ming yang berarti "cerah dan terang". Istilah ini menggambarkan kondisi cuaca saat musim semi di Tiongkok adalah tradisi Tionghoa untuk menghoramati Leluhur dengan membersihkan makam, memberikan persembahan dan berdoa. Bagi masyarakat Tionghoa, ini bukan sekadar ziarah biasa. Seperti disampaikan Fu Yanto, warga keturunan Tionghoa di Bangka: "Walaupun orang tua sudah tiada, tetapi bakti anak kepada orang tua atau leluhur tidaklah padam dan masih tetap menyala di tradisi Ceng Beng." Kapan Ceng Beng Dirayakan? Tahun 2026 ini, puncak perayaan Ceng Beng akan berlangsung pada 5 April yang bertepatan dengan tanggal 18 bulan 2 dalam kalender Lunar Tionghoa. Meskipun puncak perayaan jatuh pada tanggal tersebut, masyarakan memiliki periode fleksibel selama 20 hari yaitu 10 hari sebelum hingga 10 hari setelah puncak, sehingga ritual dapat dilakukan antara 26 Maret hingga 15 April. Rangkaian Tradisi Sebelum ziarah, keluarga membersihkan makam dari rumput liar dan mengecat bagian yang pudar. Saat ziarah, keluarga membawa:-
Hio (dupa) dan lilin merah
Makanan (tiga jenis daging, tiga macam buah, dan vegetarian)
Kertas sembahyang (emas untuk dewa, perak untuk leluhur)
Bunga segar