KALSEL.DISWAY.ID - Perkembangan teknologi komunikasi membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Notifikasi pesan yang terus berdatangan, bahkan di akhir pekan, mendorong banyak pekerja untuk tetap terhubung dengan pekerjaan tanpa henti.
Fenomena ini dikenal sebagai budaya “always on”, di mana seseorang merasa harus selalu siap merespons kapan pun dibutuhkan. Tak sedikit yang akhirnya merasa bersalah jika tidak segera membalas pesan kerja, meski di luar jam operasional. Kenapa Rasa Bersalah Itu Muncul? Ada beberapa faktor yang memicu munculnya rasa bersalah saat tidak membalas chat pekerjaan: 1. Tekanan Budaya Kerja Di banyak lingkungan kerja, respons cepat sering dianggap sebagai bentuk profesionalisme. Hal ini secara tidak langsung membentuk ekspektasi bahwa karyawan harus selalu siap, bahkan di luar jam kerja. 2. Takut Dinilai Tidak Komitmen Sebagian pekerja khawatir dianggap tidak serius atau kurang berdedikasi jika tidak merespons pesan dengan cepat. 3. Kebiasaan yang Terbentuk Seringnya membalas chat di luar jam kerja membuat hal tersebut menjadi kebiasaan. Ketika tidak dilakukan, muncul perasaan “ada yang kurang” atau bahkan bersalah. 4. Kurangnya Batasan yang Jelas Tidak semua perusahaan memiliki aturan tegas terkait jam kerja digital. Akibatnya, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur. Dampak Budaya “Always On” Kebiasaan selalu terhubung dengan pekerjaan dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, di antaranya:-
Meningkatkan risiko kelelahan (burnout)
Mengganggu waktu istirahat dan kualitas tidur
Menurunkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work-life balance)
-
Tetapkan batas waktu kerja yang jelas
Biasakan untuk tidak membuka atau membalas pesan kerja di luar jam yang sudah ditentukan.
Komunikasikan ekspektasi dengan tim
Sampaikan secara profesional mengenai waktu respons yang realistis.
Manfaatkan fitur “silent” atau notifikasi terbatas