Senyap tapi Nyata: Bagaimana AI Mengubah Hidup Anda Tanpa Disadari

Minggu 01-02-2026,17:25 WIB
Reporter : Rifaa Ayuni
Editor : Rifaa Ayuni

KALSEL.DISWAY.ID - Integrasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam rutinitas sehari-hari kini tak terhindarkan. Teknologi ini membawa gelombang transformasi, menawarkan efisiensi namun juga memantik perdebatan etis dan sosial.

Di sektor kesehatan, AI membantu analisis medis lebih cepat dan akurat. "AI bisa mendeteksi anomali pada citra radiologi dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan manusia secara manual," jelas Dr. Anya Pratama, seorang ahli teknologi medis di sebuah rumah sakit ibu kota. Menurutnya, alat bantu ini menjadi second opinion yang berharga, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan dokter.

Dalam dunia kerja, otomatisasi berbasis AI telah merevolusi produktivitas. "Kami menghemat hingga 30% waktu untuk analisis data administratif, sehingga tim bisa fokus pada tugas strategis," ujar Rendra Wijaya, seorang operations manager di perusahaan fintech. Namun, ia mengakui, hal ini juga menuntut peningkatan keterampilan karyawan agar dapat berkolaborasi dengan teknologi.

Dampak positif lainnya terasa di kehidupan domestik. Asisten virtual berbasis AI telah memudahkan pengaturan jadwal, belanja, hingga kendali perangkat rumah tangga. "Ini seperti memiliki asisten pribadi yang selalu siaga," komentar Sari Dewi, seorang ibu pekerja yang aktif menggunakan teknologi smart home.

Namun, di balik segudang manfaat, sejumlah pakar menyoroti dampak negatif yang perlu diantisipasi. Isu privasi data menjadi sorotan utama. "Setiap interaksi dengan AI seringkali meninggalkan digital footprint. Perlindungan data yang ketat dan transparansi dalam penggunaannya adalah keharusan," tegas Prof. Bimo Sasongko, akademisi di bidang etika teknologi.

Tantangan lain adalah potensi bias algoritma dan disrupsi lapangan kerja. "AI belajar dari data yang ada. Jika data tersebut mengandung bias, maka keputusannya bisa diskriminatif," imbuh Prof. Bimo. Sementara itu, automasi berlebihan dikhawatirkan mengurangi lapangan kerja berbasis tugas rutin.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan sedang menyusun regulasi yang seimbang. "Prinsipnya, kami ingin inovasi AI terus berkembang, tetapi dengan perlindungan terhadap hak-hak dasar masyarakat dan prinsip keadilan," papar seorang juru bicara kementerian.

BACA JUGA:Lelah dengan Deadline? Coba 5 Strategi Jitu Ini untuk Kelola Tekanan Pekerjaan di Kantor

Inovasi AI ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia adalah mesin pendorong kemajuan yang luar biasa. Di sisi lain, ia membawa kompleksitas tantangan baru. Kolaborasi antara regulator, pengembang, dan masyarakat dinilai kunci untuk mengarahkan teknologi ini agar memberikan manfaat berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh kalangan.

Kategori :