Quiet Quitting di Kalangan Gen Z: Tren Bekerja Seperlunya atau Bentuk Perlawanan Sunyi?

Kamis 12-02-2026,17:11 WIB
Reporter : Rifaa Ayuni
Editor : Rifaa Ayuni

KALSEL.DISWAY.ID - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting semakin ramai diperbincangkan di media sosial hingga ruang-ruang diskusi profesional. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan generasi muda, khususnya Gen Z, yang dinilai memiliki cara pandang berbeda terhadap dunia kerja dibanding generasi sebelumnya.

Alih-alih benar-benar “resign”, quiet quitting merujuk pada sikap karyawan yang tetap bekerja sesuai deskripsi tugasnya, namun menolak melakukan pekerjaan di luar tanggung jawab formal mereka. Bagi sebagian kalangan, ini dianggap sebagai bentuk kurangnya loyalitas. Namun bagi Gen Z, langkah tersebut justru dilihat sebagai upaya menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

Apa Itu Quiet Quitting?

Secara sederhana, quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan tidak lagi memberikan “usaha ekstra” di luar kewajiban utama. Mereka datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai job description, lalu pulang tanpa merasa perlu mengambil tanggung jawab tambahan yang tidak diatur secara jelas.

Fenomena ini mencuat di berbagai platform seperti TikTok dan LinkedIn, di mana banyak pekerja muda berbagi pengalaman tentang tekanan kerja berlebih, burnout, hingga ekspektasi perusahaan yang dinilai tidak realistis.

Gen Z dan Cara Pandang Baru tentang Dunia Kerja

Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Mereka tidak segan menyuarakan batasan personal di tempat kerja.

Salah satu pekerja Gen Z mengatakan, “Saya tidak berhenti bekerja, saya hanya berhenti bekerja di luar apa yang menjadi tanggung jawab saya.” Pernyataan ini mencerminkan sudut pandang bahwa bekerja sesuai kontrak bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan profesionalisme.

Bagi banyak Gen Z, kesuksesan tidak lagi semata diukur dari jabatan tinggi atau lembur tanpa batas. Fleksibilitas, lingkungan kerja yang sehat, serta penghargaan terhadap waktu pribadi menjadi faktor yang jauh lebih penting.

Antara Work-Life Balance dan Loyalitas

Di sisi lain, sejumlah perusahaan melihat tren quiet quitting sebagai tantangan serius. Budaya kerja yang selama ini mengandalkan inisiatif ekstra dan loyalitas tinggi dianggap mulai terkikis.

Beberapa pimpinan perusahaan berpendapat bahwa sikap tersebut bisa menghambat pertumbuhan karier. “Kalau hanya bekerja sesuai minimum requirement, tentu sulit berkembang,” ujar seorang manajer SDM di sebuah perusahaan swasta.

Namun, pengamat ketenagakerjaan menilai fenomena ini tidak bisa dipahami secara hitam-putih. Mereka menyebut quiet quitting sebagai sinyal adanya ketidakseimbangan ekspektasi antara perusahaan dan karyawan.

Dampak Quiet Quitting bagi Dunia Kerja

Fenomena ini memunculkan dua konsekuensi utama. Di satu sisi, perusahaan didorong untuk mengevaluasi budaya kerja yang mungkin terlalu menuntut. Di sisi lain, karyawan dituntut tetap menjaga kualitas dan profesionalisme agar tidak merugikan tim.

Beberapa perusahaan mulai merespons dengan menawarkan fleksibilitas kerja, kebijakan remote working, hingga program kesehatan mental. Langkah ini dianggap sebagai adaptasi terhadap perubahan nilai dan prioritas generasi muda.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Alih-alih sekadar tren sesaat, quiet quitting mencerminkan pergeseran paradigma kerja di era modern. Gen Z menempatkan batas yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta berani menegosiasikan ulang ekspektasi kerja.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa dunia kerja terus berkembang. Perusahaan yang mampu memahami karakter dan aspirasi Gen Z berpeluang membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.

BACA JUGA:Lelah dengan Deadline? Coba 5 Strategi Jitu Ini untuk Kelola Tekanan Pekerjaan di Kantor

Pada akhirnya, quiet quitting bukan hanya soal “bekerja seperlunya”, melainkan tentang redefinisi komitmen kerja di tengah perubahan zaman.

Kategori :