KALSEL.DISWAY.ID - Puasa, baik yang dilakukan sebagai ibadah rutin seperti Ramadan maupun sebagai pola diet intermitten fasting, telah menjadi topik hangat dalam dunia kesehatan global. Lebih dari sekadar tren, berbagai penelitian medis mutakhir mengonfirmasi bahwa puasa menyimpan segudang manfaat bagi organ vital tubuh, terutama jantung dan sistem pencernaan.
Tahun 2025 menjadi saksi hadirnya sejumlah meta-analisis berskala besar yang memperkuat bukti ilmiah di balik praktik kuno ini. Dari penurunan tekanan darah hingga regenerasi bakteri baik usus, mari kita bedah tuntas manfaat puasa bagi kesehatan jantung dan pencernaan berdasarkan lensa penelitian medis.
Memahami Puasa dalam Konteks Medis
Dalam literatur kesehatan, puasa yang banyak diteliti mengacu pada pola makan terstruktur yang mengatur kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berhenti. Istilah yang umum digunakan adalah intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten. Beberapa metode yang paling sering dikaji meliputi :
- Time-Restricted Eating (TRE) / Puasa Harian: Membatasi waktu makan hanya dalam jendela tertentu setiap hari, misalnya metode 16:8 (puasa 16 jam, makan dalam 8 jam). Puasa Ramadan termasuk dalam kategori ini karena menyerupai pola 16:8, dengan pantangan total makan dan minum dari fajar hingga magrib .
- Alternate-Day Fasting (ADF) / Puasa Selang-seling: Pola puasa total atau puasa modifikasi (hanya mengonsumsi 25% kebutuhan kalori) yang dilakukan setiap dua hari sekali .
- Whole-Day Fasting (WDF) / Puasa 5:2: Pola makan normal selama lima hari dalam seminggu, dan dua hari sisanya membatasi asupan kalori secara signifikan (sekitar 500-600 kalori) .
Manfaat Puasa bagi Kesehatan Jantung
Kesehatan jantung menjadi perhatian utama karena penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Berbagai studi menunjukkan bahwa puasa memberikan efek protektif yang signifikan.
1. Menurunkan Tekanan Darah secara Signifikan
Hipertensi adalah faktor risiko utama penyakit jantung. Sebuah network meta-analysis yang diterbitkan di jurnal Current Nutrition Reports pada tahun 2025 menemukan temuan yang sangat menjanjikan. Dengan tingkat kepastian bukti yang tinggi, puasa metode modified alternate-day fasting terbukti mampu menurunkan tekanan darah sistolik hingga -7.24 mmHg dan tekanan darah diastolik hingga -4.70 mmHg jika dibandingkan dengan pola makan biasa. Sementara itu, metode time-restricted eating juga efektif menurunkan tekanan darah diastolik sebesar -3.24 mmHg .
Penurunan ini bukanlah angka yang bisa diabaikan. Dalam dunia kardiologi, reduksi tekanan darah sekian poin berkorelasi langsung dengan penurunan risiko stroke dan serangan jantung.
2. Memperbaiki Profil Lemak Darah (Kolesterol)
Kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida yang tinggi dapat menyumbat pembuluh darah. Studi dari Kementerian Kesehatan RI mengutip sebuah publikasi di American Journal of Cardiology yang menyebutkan bahwa puasa dapat menurunkan risiko penyakit jantung, salah satunya melalui perbaikannya terhadap profil lipid .
Penelitian yang dipublikasikan di The BMJ pada Juni 2025 menambahkan detail penting. Dalam perbandingan antar strategi puasa, alternate-day fasting terbukti lebih unggul dalam menurunkan kolesterol total, trigliserida, dan kolesterol non-HDL dibandingkan dengan metode time-restricted eating . Temuan ini menunjukkan bahwa intensitas puasa (seperti ADF) mungkin memberikan dampak lebih besar pada metabolisme lemak.
3. Meredakan Peradangan Sistemik
Peradangan kronis adalah pemicu utama aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah. Puasa diketahui dapat menekan tingkat penanda peradangan dalam tubuh. Sebuah penelitian yang mengamati 50 orang dewasa sehat menunjukkan bahwa satu bulan puasa intermiten secara signifikan menekan tingkat penanda peradangan .
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga merangkum bahwa studi lain menemukan puasa membantu menurunkan level peradangan, yang jika dibiarkan dapat memicu penyakit jantung, kanker, hingga rheumatoid arthritis .