KALSEL.DISWAY.ID - Dalam setiap lemari obat rumah tangga, dua jenis obat pereda nyeri dan penurun demam paling umum ditemukan: paracetamol dan ibuprofen. Meski sering dianggap serupa dan digunakan secara bergantian, kedua obat ini memiliki cara kerja, indikasi, serta profil keamanan yang berbeda.
Pertanyaan klasik yang kerap muncul di masyarakat adalah, mana yang sebenarnya lebih ampuh? Jawabannya ternyata bergantung pada kondisi yang dialami. Beda Cara Kerja, Beda Keunggulan Dari sisi mekanisme kerja, paracetamol dan ibuprofen tergolong dalam kelas obat yang berbeda. Paracetamol bekerja terutama di sistem saraf pusat, meredakan nyeri dan menurunkan demam dengan mempengaruhi persepsi rasa sakit di otak. Obat ini tidak memiliki efek antiinflamasi yang signifikan . Sementara itu, ibuprofen termasuk dalam golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Ibuprofen bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase yang berperan dalam produksi prostaglandin—zat pemicu peradangan, rasa sakit, dan demam . Karena itu, ibuprofen memiliki keunggulan dalam mengatasi nyeri yang disertai peradangan. "Paracetamol sering menjadi pilihan pertama karena profil keamanannya yang baik, terutama pada saluran cerna dan ginjal, serta dapat digunakan sejak bayi baru lahir," demikian disebutkan dalam sebuah tinjauan naratif yang dipublikasikan di jurnal Children (2026). Sementara NSAID seperti ibuprofen memberikan efek antiinflamasi tambahan dengan kemanjuran analgesik yang sebanding . Studi Ilmiah: Sama-Sama Ampuh, dengan Kecepatan Berbeda Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kedua obat ini memiliki potensi yang setara dalam meredakan nyeri dan demam. Sebuah uji coba acak tersamar ganda yang dilakukan di Indonesia dan dipublikasikan dalam Medica Hospitalia (2023) menyimpulkan bahwa paracetamol 600 mg, ibuprofen 600 mg, dan asam mefenamat 500 mg memiliki potensi analgesik yang sama . Penelitian lain pada pasien sepsis dan syok septik yang diterbitkan dalam Eurasian Journal of Emergency Medicine menemukan bahwa meskipun ibuprofen bekerja lebih cepat dalam menurunkan demam pada 30 menit pertama, kedua obat sama-sama efektif pada menit ke-120 . Untuk cedera seperti keseleo pergelangan kaki, sebuah studi fase 4 yang terdaftar di ClinicalTrials.gov bahkan menguji apakah paracetamol lepas lambat tidak kalah efektif dibanding ibuprofen dalam meredakan nyeri saat berjalan . Pertimbangan Keamanan: Siapa yang Harus Hati-Hati? Meski sama-sama ampuh, faktor keamanan menjadi penentu utama dalam memilih obat. Paracetamol secara umum lebih aman bagi lambung dan tidak mempengaruhi pembekuan darah. Namun, bahaya utama terletak pada risiko kerusakan hati (hepatotoksik) jika dosis terlampaui atau digunakan dalam jangka panjang. Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa konsumsi paracetamol berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati . Ibuprofen dan NSAID lainnya memiliki risiko lebih tinggi terhadap saluran cerna, seperti iritasi lambung hingga perdarahan, serta dapat mempengaruhi fungsi ginjal. "Penggunaan obat-obatan analgetik yang dijual bebas selama 1-2 tahun berturut-turut dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal," kata Dr. Dharmeizar, Sp.PD-KGH, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia . Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa ibuprofen sebaiknya dikonsumsi setelah makan untuk mengurangi risiko iritasi lambung, dan dihindari pada pasien dengan riwayat maag, gangguan ginjal, atau yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah . Panduan Praktis Memilih Obat Para ahli sepakat bahwa pilihan antara paracetamol dan ibuprofen harus disesuaikan dengan kondisi pasien:-
Pilih paracetamol jika: nyeri ringan seperti sakit kepala, demam tanpa peradangan, atau pada pasien dengan riwayat maag, gangguan ginjal, serta ibu hamil (terutama trimester akhir hindari ibuprofen) .
Pilih ibuprofen jika: nyeri yang disertai peradangan seperti nyeri otot setelah cedera, nyeri sendi, keseleo, atau nyeri haid .