Jejak Rasa Keju: Dari Perut Hewan, Mitologi Yunani, Hingga Dangke Nusantara
--Ilustrasi gambar
KALSEL.DISWAY.ID - Di balik teksturnya yang lembut dan rasanya yang gurih, keju menyimpan kisah perjalanan panjang yang penuh misteri. Makanan olahan susu ini ternyata lahir bukan dari resep canggih, melainkan dari serangkaian "kecelakaan" bersejarah yang terjadi ribuan tahun lalu. Hari ini keju menjadi primadona global, namun tahukah Anda bagaimana gumpalan putih pertama kali ditemukan?
Penemuan Tak Sengaja di Padang Pasir dan Perut Hewan
Sejarah mencatat, asal-usul keju diperkirakan bermula sekitar 7.000 hingga 8.000 tahun lalu di kawasan Timur Tengah . Saat itu, manusia purba mulai beralih dari gaya hidup nomaden menjadi beternak kambing, domba, dan sapi. Mereka mulai mengenal susu sebagai sumber nutrisi baru .
Legenda paling populer yang dipercaya sebagai cikal bakal keju berasal dari seorang pengembara Arab. "Pengembara tersebut melakukan perjalanan di padang gurun dengan kudanya. Ia membawa susu di pelananya untuk menghilangkan dahaganya," tulis sebuah sumber sejarah . Setelah beberapa lama, susu dalam kantong pelana yang terbuat dari perut hewan itu berubah menjadi "air yang pucat dan gumpalan-gumpalan putih" . Kombinasi panas matahari, guncangan, dan enzim alami bernama rennet dari dinding perut hewan ternyata secara ajaib telah "memasak" susu tersebut menjadi keju pertama di dunia .
Kisah lain datang dari tradisi para pemburu. Diceritakan ketika mereka membuka perut anak sapi buruan, mereka menemukan gumpalan putih yang ternyata memiliki rasa yang enak. "Karena adanya suatu enzim yang bernama rennet di dalam perut sapi, maka susunya pun menjadi kental," jelas literatur sejarah, menjadi cikal bakal keju krim manis .
Dari Mitologi Yunani hingga Teknik Romawi
Seiring waktu, keju tak lagi sekadar makanan kebetulan. Dalam mitologi Yunani Kuno, Aristaeus disebut sebagai penemu keju . Bahkan dalam epos sastra dunia, Odyssey karya Homer (sekitar 800 SM), tokoh Cyclops digambarkan sudah membuat keju dari susu domba dan kambing . Bagi masyarakat Yunani, keju bukan hanya makanan biasa. Mereka percaya "keju dapat membuat perwira lebih kuat dan juga merupakan perangsang nafsu berahi," serta kerap digunakan sebagai persembahan bagi para dewa dan obat-obatan .
Namun, sentuhan "modern" pertama justru datang dari tangan dingin bangsa Romawi. Merekalah yang pertama kali mengembangkan teknik pematangan dan penyimpanan. "Bangsa Romawi mengerti dampak teknik pematangan yang berbeda terhadap rasa dan karakter keju tertentu," catat sejarah . Saat menaklukkan Eropa, mereka membawa serta seni pembuatan keju ke wilayah yang kini dikenal sebagai Prancis dan Inggris . Pada era inilah muncul istilah caseale, yaitu dapur khusus untuk memproduksi keju di rumah-rumah mejah Romawi .
Keju di Indonesia: Bukti Bahwa Nenek Moyang Kita Juga Jago
Di tengah dominasi narasi keju Eropa, Indonesia ternyata memiliki warisan kuliner yang tak kalah menarik. Dangke, keju tradisional asal Enrekang, Sulawesi Selatan, membuktikan bahwa Nusantara juga punya tempat dalam peta sejarah keju dunia.
Pembuat keju, Jamie Najmi, dalam sebuah diskusi budaya menjelaskan bahwa Dangke memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan keju Eropa yang menggunakan enzim rennet, masyarakat Enrekang memanfaatkan "getah kulit pepaya atau enzim papain" sebagai bahan penggumpal susu .
Proses pembuatannya pun sarat kearifan lokal. "Saya terus terang terkesan dengan nenek moyang kita di Enrekang. Ini cara tradisionalnya meniriskan, menggunakan batok kelapa yang dilubangi," ujar Jamie . Ia juga menekankan bahwa pembuatan keju pada dasarnya mensimulasi proses alami dalam perut mamalia. Filosofinya pun unik: "Setiap manusia adalah cheesemaker sejati sejak pertama dilahirkan ke dunia," jelasnya, merujuk pada proses gumoh pada bayi yang menghasilkan gumpalan susu (curd) .
Industri dan Globalisasi Keju
Popularitas keju terus meroket hingga era modern. Pabrik keju pertama dibuka di Swiss pada tahun 1815, namun produksi skala besar pertama kali sukses di Amerika Serikat . Pada masa Perang Dunia II, keju buatan pabrik mulai menggeser keju tradisional .
Saat ini, diperkirakan ada lebih dari 400 jenis keju di dunia . Dari yang awalnya hanya gumpalan putih tak sengaja di padang gurun, keju kini telah menjadi industri global yang tak terpisahkan dari hidangan modern seperti pizza, pasta, hingga roti. Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa keju bukan sekadar produk susu, melainkan warisan sejarah kuliner umat manusia yang kaya rasa dan cerita
Sumber: