Kenapa Dalam Satu Minggu Ada 7 Hari? Ini Sejarah dan Fakta Menariknya
--ILUSTRASI GAMBA
KALSEL.DISWAY.ID - Pembagian waktu menjadi tujuh hari dalam satu minggu sudah menjadi sistem yang digunakan hampir di seluruh dunia. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa konsep ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan peradaban kuno, astronomi, hingga tradisi keagamaan.
Sistem tujuh hari ini bukanlah aturan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil perkembangan budaya manusia sejak ribuan tahun lalu.
Berasal dari Peradaban Kuno
Sejarah mencatat bahwa pembagian minggu menjadi tujuh hari pertama kali dipopulerkan oleh bangsa Babilonia sekitar 4.000 tahun lalu. Mereka dikenal sebagai peradaban yang memiliki pengetahuan astronomi cukup maju pada masanya.
Bangsa Babilonia mengamati tujuh benda langit yang dapat dilihat dengan mata telanjang, yaitu Matahari, Bulan, Mars, Merkurius, Jupiter, Venus, dan Saturnus. Ketujuh benda langit tersebut kemudian dijadikan dasar pembagian hari dalam satu minggu.
Konsep ini kemudian menyebar ke berbagai peradaban lain, termasuk Yunani dan Romawi.
Pengaruh Agama
Selain faktor astronomi, pembagian tujuh hari juga dipengaruhi oleh tradisi keagamaan. Dalam ajaran agama Abrahamik seperti Islam, Kristen, dan Yahudi, terdapat kisah penciptaan alam semesta yang berlangsung selama enam hari dan diakhiri dengan satu hari istirahat.
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, hari ketujuh dikenal sebagai Sabbath, yaitu hari yang dikhususkan untuk beristirahat dan beribadah. Sementara dalam Islam, hari Jumat menjadi hari yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Muslim.
Pengaruh kepercayaan ini turut memperkuat penggunaan sistem tujuh hari yang akhirnya diadopsi secara luas.
Ditetapkan Secara Global
Sistem tujuh hari dalam satu minggu semakin mengakar ketika digunakan dalam kalender Romawi. Pada masa Kekaisaran Romawi, pembagian minggu ini mulai digunakan dalam aktivitas sosial, ekonomi, hingga pemerintahan.
Kemudian, pada abad ke-4 Masehi, Kaisar Romawi Konstantinus secara resmi menetapkan minggu tujuh hari sebagai bagian dari sistem kalender yang berlaku di wilayah kekuasaannya.
Seiring berkembangnya peradaban dan penyebaran budaya Barat, sistem ini akhirnya digunakan secara global hingga saat ini.
Mengapa Bukan 5 atau 10 Hari?
Sepanjang sejarah, sebenarnya ada beberapa percobaan untuk mengganti sistem minggu tujuh hari. Salah satu contohnya adalah Kalender Revolusi Prancis yang sempat memperkenalkan minggu dengan sepuluh hari.
Namun sistem tersebut tidak bertahan lama karena dianggap menyulitkan masyarakat yang sudah terbiasa dengan pola tujuh hari.
Selain itu, siklus tujuh hari juga dinilai cukup ideal karena memberikan keseimbangan antara waktu kerja dan waktu istirahat.
Sistem yang Bertahan Hingga Sekarang
Hingga saat ini, pembagian waktu menjadi tujuh hari dalam satu minggu tetap digunakan di hampir seluruh negara di dunia. Sistem ini bahkan telah menjadi bagian dari standar internasional dalam penanggalan modern.
Meski berasal dari peradaban kuno, konsep tujuh hari dalam seminggu terbukti mampu bertahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Sumber: